Selasa, 23 April 2013

Saturday Night Fever

Saturday night always be the awaited night every week for everyone either they're single or double. Well, maybe all the single's not really looking for this night but let's be honest. Like it or not, saturday night is much better than every other weekday night, isn't it?

Last Saturday night I was on my on-call night shift. With hoping no patient would like to visit our ER in this lovely night I was hanging my wishful thinking. Which I should have never ever dare to think about that back then.

Jam 11 malam aku dapet telfon telling me a patient was waiting me on ER. I found a girl who was crying out loud lying on the bed while the nurse doing stitch on her injury. Kakinya luka tergores kaca. A minute later, masuk 2 pasien KLL. Salah satunya mabuk berat dengan luka robek di alis sama bibir. Setelah selesai beresin pasien2 ini, masuk lagi pasien baru dengan blood all over his face and shirt. Hebatnya walaupun darahnya udah muncrat2 dari kepalanya, si pasien masih bisa jalan tenang masuk IGD dan naik ke bed.

Karena kebanyakan pasien dan perawat yang terbatas, aku ikutan hecting (menjahit luka) pasien terakhir. Nggak berapa lama setelah itu ada ribut2 di depan IGD. Temen2 pasien yang mabok tadi pukul2an sama temen2 pasien yang kepalanya bocor ini. Satpam yg seharusnya doing his job dengan tenangnya sleep sound and safe unaware of the heat situation here. Untungnya mereka berhenti pukul2an dan salah satunya pulang ke rumah.

After awhile, temen yang pulang tadi balik ke RS bawa parang dan langsung ngebacok temen berantemnya tepat di depan pintu IGD. Like I have had not enough already. Kenapa juga harus di depan IGD? Kenapa juga harus pas shift jaga ku?!!

Setelah puas ngebacok kepala orang, si pembacok lega dan pulang meninggalkan pasien baru di IGD dengan 5 luka robek di kepala. Yang lebih keren lagi, satpam tetap tidur nyenyak tanpa terganggu ribut2 di IGD.

Jam 3 pagi aku masih harus berkutat dengan nald, catgut dan pasien mabok yang darahnya banjir di IGD. Dateng lagi pasien baru minta divisum abis dipukul. Yassalam, malam minggu gini kok banyak yang doyan pukul2an ya. Kenapa gak ngadain zikir akbar dilanjutkan sholat tahajud berjamaah aja sih -..-

Jam setengah 4 aku balik ke kamar langsung tepar. It's the worst scenario I've ever imagined. Setelah mulai melayang hampir tertidur hp ku bunyi.

"Dok, ada pasien LAGI di IGD"

F!

virginity

Jumat, 19 April 2013

Lagi jaga sore di IGD, tiba - tiba dapet BBM dari dokter jaga nyuruh aku ke poli OBGYN segera. Padahal udah mau adzan magrib, dan poli juga udah tutup dari siang tadi. Nyampe poli udah ada dokter jaga, seorang ibu dan anak perempuannya. Ternyata ibu ini minta anaknya untuk di visum keperawanan.

Aku udah pernah visum keperawanan anak balita dan hymen (selaput dara)-nya masih utuh. Jadi visum kali ini beda sama sebelumnya. Pikiran pertama yang terlintas waktu ngeliat si pasien kemungkinan dia abis diperkosa makanya minta divisum. Karena penampilannya yang menggambarkan cewek rumahan, lugu, pemalu, dan alim.

Si ibu cerita "Anak saya ini punya pacar udah 11 bulan pacaran. Tiba-tiba diputusin sama pacarnya dan pacarnya pergi ke Medan. Beberapa minggu belakangan ini anak saya nangis terus. Saya tanya kenapa, dia cerita katanya pacarnya itu sudah punya pacar baru di Medan. Dan yang buat dia makin sedih, anak saya ini udah berhubungan suami-istri lah selama pacaran dulu"

Hmm.. kalimat pembukaannya cukup jelas menggambarkan maksud dan tujuan si ibu. Cukup jelas menghancurkan prediksi awalku.

"Udah nggak inget, pokoknya setiap ketemu pasti ngelakuin" jawab si anak waktu ditanya berapa kali udah ngelakuinnya. Another shocking fact hit me. 

"kamu gak takut hamil? Udah pernah test pack? kapan terakhir menstruasi?"

Kali ini si ibu menjawab dengan tenangnya "Udah saya tanya itu dok. Kok bisa lah kau inang (panggilan sayang orang batak ke putri nya) nggak hamil tapi kau bilang setiap ketemu udah begituan. Trus dibilangnya dok, si laki-laki ini mengeluarkan "itu"-nya di perutnya"

Lemes..

Entah kenapa first impression aku tuh selalu salah total. Pasien yang awalnya aku kira good girl has already gone bad only in a minute. Aku yang awalnya bahkan gak berani bayangin si pasien bakal secara sukarela making love berulang kali. Eh, mereka bahkan ngerti caranya ngelakuin coitus interuptus :|

Daerah pelosok, jauh dari hingar bingar kehidupan kota, nggak menjamin penduduknya taat agama dan takut dosa. Aku udah sering denger sih dari temen-temen yang lain bilang banyak terima kasus visum keperawanan selama jaga IGD. Katanya sih free sex udah biasa disini, banyak yang minta divisum biar akhirnya dinikahin sama si laki-laki. Tapi mendengar sama mengalami langsung itu beda rasanya. 

Si pasien ini masih 18 tahun. Segitu nggak berharganya kah keperawanan? Terserah lah kalo nggak peduli sama dosa. At least segitu nggak peduli nya sama diri sendiri sampe harta yang paling berharga itu gampang aja dikasih.

I don't know what went wrong with this people. While I'm strictly to stay virgin, they are easily giving it up in the name of fcuking love!! What a super irrational thought.

Hasil pemeriksaan sesuai dengan pengakuan korban. I don't wanna tell the detail here. I just wanna show how horrified I am to know the reality. Even in this unidentified place, virginity means nothing.

oh well, this poor girl.. Aku pengen bilang ke dia "kalo kamu aja gak bisa menghargai diri kamu sendiri gimana orang lain bisa ngeliat kamu berharga" tapi si Ibu keliatan ngebela anaknya abis2an. Katanya si anak terpaksa nurut setiap diminta ML sama pacarnya karena diancem bakal diputusin kalo gak mau. 

Oh, give me a break. Entah si ibu yang kelewat naif percaya aja gitu apa yang dibilang anaknya atau dia sengaja percaya sebagai self defense. Dunno and dont care. All I can conclude about this case is while the moron meets the idiot they will make the most stupid excuse to having sex. Stupid!