Tampilkan postingan dengan label reality. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reality. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013

virginity

Jumat, 19 April 2013

Lagi jaga sore di IGD, tiba - tiba dapet BBM dari dokter jaga nyuruh aku ke poli OBGYN segera. Padahal udah mau adzan magrib, dan poli juga udah tutup dari siang tadi. Nyampe poli udah ada dokter jaga, seorang ibu dan anak perempuannya. Ternyata ibu ini minta anaknya untuk di visum keperawanan.

Aku udah pernah visum keperawanan anak balita dan hymen (selaput dara)-nya masih utuh. Jadi visum kali ini beda sama sebelumnya. Pikiran pertama yang terlintas waktu ngeliat si pasien kemungkinan dia abis diperkosa makanya minta divisum. Karena penampilannya yang menggambarkan cewek rumahan, lugu, pemalu, dan alim.

Si ibu cerita "Anak saya ini punya pacar udah 11 bulan pacaran. Tiba-tiba diputusin sama pacarnya dan pacarnya pergi ke Medan. Beberapa minggu belakangan ini anak saya nangis terus. Saya tanya kenapa, dia cerita katanya pacarnya itu sudah punya pacar baru di Medan. Dan yang buat dia makin sedih, anak saya ini udah berhubungan suami-istri lah selama pacaran dulu"

Hmm.. kalimat pembukaannya cukup jelas menggambarkan maksud dan tujuan si ibu. Cukup jelas menghancurkan prediksi awalku.

"Udah nggak inget, pokoknya setiap ketemu pasti ngelakuin" jawab si anak waktu ditanya berapa kali udah ngelakuinnya. Another shocking fact hit me. 

"kamu gak takut hamil? Udah pernah test pack? kapan terakhir menstruasi?"

Kali ini si ibu menjawab dengan tenangnya "Udah saya tanya itu dok. Kok bisa lah kau inang (panggilan sayang orang batak ke putri nya) nggak hamil tapi kau bilang setiap ketemu udah begituan. Trus dibilangnya dok, si laki-laki ini mengeluarkan "itu"-nya di perutnya"

Lemes..

Entah kenapa first impression aku tuh selalu salah total. Pasien yang awalnya aku kira good girl has already gone bad only in a minute. Aku yang awalnya bahkan gak berani bayangin si pasien bakal secara sukarela making love berulang kali. Eh, mereka bahkan ngerti caranya ngelakuin coitus interuptus :|

Daerah pelosok, jauh dari hingar bingar kehidupan kota, nggak menjamin penduduknya taat agama dan takut dosa. Aku udah sering denger sih dari temen-temen yang lain bilang banyak terima kasus visum keperawanan selama jaga IGD. Katanya sih free sex udah biasa disini, banyak yang minta divisum biar akhirnya dinikahin sama si laki-laki. Tapi mendengar sama mengalami langsung itu beda rasanya. 

Si pasien ini masih 18 tahun. Segitu nggak berharganya kah keperawanan? Terserah lah kalo nggak peduli sama dosa. At least segitu nggak peduli nya sama diri sendiri sampe harta yang paling berharga itu gampang aja dikasih.

I don't know what went wrong with this people. While I'm strictly to stay virgin, they are easily giving it up in the name of fcuking love!! What a super irrational thought.

Hasil pemeriksaan sesuai dengan pengakuan korban. I don't wanna tell the detail here. I just wanna show how horrified I am to know the reality. Even in this unidentified place, virginity means nothing.

oh well, this poor girl.. Aku pengen bilang ke dia "kalo kamu aja gak bisa menghargai diri kamu sendiri gimana orang lain bisa ngeliat kamu berharga" tapi si Ibu keliatan ngebela anaknya abis2an. Katanya si anak terpaksa nurut setiap diminta ML sama pacarnya karena diancem bakal diputusin kalo gak mau. 

Oh, give me a break. Entah si ibu yang kelewat naif percaya aja gitu apa yang dibilang anaknya atau dia sengaja percaya sebagai self defense. Dunno and dont care. All I can conclude about this case is while the moron meets the idiot they will make the most stupid excuse to having sex. Stupid!

Rabu, 20 Februari 2013

Visum kematian

Udah hampir 1 bulan aku jaga di IGD dan belum juga nemu kasus yang menarik or at least an emergency-pumping-my-adrenaline case. So far pasien2ku kebanyakan sakit biasa2 aja like common cold, cerumen prop, corpus alienum on the auricule, typhoid fever or dyspepsia. Kalo baca nama2 penyakit di atas keren ya? You can google it and find how graceless they are.

satu kasus yang lumayan menarik waktu aku jaga malam di IGD dan jam 3 pagi ditelfon perawat IGD karena ada mayat yang mau divisum. Uh-oh, thanks to co-ass life, I never get afraid of dead body anymore. But still, I felt a bit scared the first time I saw the body in the emergency room. He was lying on the bed covered by towel. When I opened the towel, there I found him. A 55 year-old man with a unimaginable injury on his abs. At first I thought he must be a bad guy who drunk all night and bring his to the accident. U will never know how easy people jump their self into a traffic accident because of drunk.

A reality hits me when I just knew that he has nothing to do with drink :|

So the story begin...
Korban sedang dalam perjalanan dari Tarutung menuju Pekan Baru untuk menghadiri pesta disana. Bersama 2 anak cowoknya mereka nyetir mobil rental malem2. Tiba2 ban mobil pecah, so they had to change tire. Kayanya bukan ban mobilnya aja sih yang pecah, ada masalah di permesinan mobilnya yang buat korban harus masuk ke bawah mobil untuk ngecek in the middle of the night while there's none of street lamp there, I might add!

Out of nowhere, ada mobil avanza melaju kencang dan gak ngeliat ada setengah badan lying on the street karena gak ada lampu jalan. Kayanya si pengemudi mobil avanza ini juga gak liat ada mobil mogok. Karena tiba2 mobil ini nabrak mobil rental yang mogok dan mobil rentalnya menggilas perut korban.

Menurut anak korban, 1 jam setelah kejadian, denyut nadi masih teraba, jantung masih berdetak tapi mereka susah dapet pertolongan karena kejadian jam 2 pagi, jalanan sepi dan mobil mereka mogok. Sekitar jam 3 pagi korban dibawa ke IGD RS sama polisi dalam keadaan tak bernyawa.

I feel definitely guilty for my missed prejudice on him. He's just an innocent stranger who tragically end his life here. He's not even the local resident. Truly deeply so sorry for him.

Waktu aku buka handuk yang nutupin mayatnya, there I saw him..
First I looked at his face, nothing was wrong. Just a peaceful face without any sign of holding a pain draw on his face. Turun ke badannya baru lah aku lihat penyebab kematian. Perutnya robek dari pertengahan pusat sampai ke pinggang kanan. Oh, you don't wanna know the detail.

Aku ikut bantuin perawat2 cowok narik kulit perut dan kulit pahanya buat di jahit. And it's hard indeed. Then I did what I had to do. I'm measuring the scale of the lacerated wound, I wrote whatever I found on him on the paper.

Keluarga minta mayat di formalin. It took 3 hours to wrap it all. Then another fact hits me hard.
Anak cowoknya cerita "saya juga ada di bawah kolong mobil waktu kejadian, tapi nggak tau kenapa cuma Bapak yang..."

Another thing disturb me when the hospital urged them to paid the fee while his son doesn't have any money on him. Aku ngerti sih, itu kebijakan rumah sakit untuk minta pelunasan pembayaran. Dan mereka juga minta jasa ambulans untuk nganter mayat balik ke Tarutung sana. Jadi anak korban ini janji bakal bayar semua biayanya nanti pas nyampe kampung karena sekarang mereka bener2 gak ada uang. Tapi pihak rumah sakit masih maksa at least bayar setengah lah karena sebelum2nya mereka udah sering kejadian kaya gini dan ujung2nya gak dibayar.

Well, mungkin karena aku baru disini, dan blom ngalamin apa yang mereka alamin ya. Tapi kan ya ini keluarga lagi berduka kenapa gak saling membantu gitu. Toh mereka udah janji juga bakal bayar nanti pas nyampe kampung. Tapi siapa lah aku? Cuma dokter internship yang untuk hidup disini aja masih disubsidi orang tua. Konon lagi mau bantu mereka.

Akhirnya polisi yang nemenin ngasih jaminan KTP nya dan gak tau dari mana si anak udah ngebayar 500ribu biaya administrasi.

Moral of the story : you never know when, where and how you will end your life. Will it be now, tomorrow or a hundred year later? Will it be in a peaceful painless way or either in a painful and rudeness one? Will it be in a cozy warm bed or in a cold dirty street? None of us know. So then, since I the same as you for the knowledge of death, let's fulfill this remaining time we have as precious as possible. Fill it with all the positive energy and things to do. Because we never know when our turn to face the death will.