Jumat, 26 Agustus 2016

Movie review: lights out

I'm not a fan of horror movie. Males aja rasanya udah bayar malah dibuat ketakutan selama nonton. Tapi berhubung suami doyan horor ya ngikut aja. Mumpung ada yang bisa dicubitin tangannya pas lagi adegan serem. 

Nonton lights out tanpa baca resensi atau liat trailer dulu. Cuma baca di twitter kalo ini film horor yg menegangkan bahkan ngalahin conjuring 2. 

Well, filmnya bercerita tentang hantu yang posesif sama ibu 2 anak sampe2 segala suami si ibu ini dibunuhin saking posesifnya. Hehehe..

Ya kurang lebih intinya begitu. Anak2nya si ibu ini berusaha nyelametin si ibu dari hantunya. Eh, malah mereka yang digangguin si hantu. Nah si hantu ini cuma bisa muncul pas gelap. Kalo ada cahaya dia kabur gitu deh. 

Ceritanya sebenernya sederhana. Tapi sepanjang adegan tuh banyak kejutan yang bikin tegang terus. Sering deg2an sambil tutup mata deh. Ada penyesalan selama nonton kenapa sok2an berani pilih nonton film ini. Jantung ku ini loh bang.. Lemes banget rasanya selesai nonton. 

Tapi selesai nonton gak perasaan jadi takut kalo mati lampu jg sih. Filmnya pas buat ditonton bagi yang kuat jasmani dan rohani. Lebih ke menegangkan ketimbang menakutkan sih. 


Jumat, 19 Agustus 2016

Selamat tanggal Duapuluh

"Dokter tau pasien X? Suaminya ninggalin dia udah 5 hari loh dok"

Sebuah informasi yang baru saja disampaikan seorang perawat pagi ini setelah saya visite pagi. 

Dua bulan terakhir saya mulai bekerja di Instalasi Hemodialisa (HD) di salah satu rumah sakit swasta di sini.

Kerja di HD jauh lebih menyenangkan karena bonding ke pasien jadi lebih kuat ketimbang di IGD atau ruang rawat inap. Setiap 2 kali seminggu ketemu pasien yang sama dengan penyakit yang sama tapi keluhan yang bervariatif. Setiap individu punya masalah masing2 dan mayoritas pasien HD punya satu masalah yang sama : depresi. 

Hampir setiap pasien HD depresi dengan keadaannya. Merasa kualitas hidupnya sangat berkurang sejak divonis harus cuci darah rutin 2 kali seminggu. Merasa tidak bisa hidup mandiri karena butuh bantuan mesin untuk menyambung hidup. Ditambah lagi keluarga yang belum tentu bisa menerima keadaan pasien yg hidupnya bergantung pada mesin. Dan tugas dokter HD disini lebih kepada memberikan motivasi sambil mengobati beberapa keluhan2 yang muncul selama HD. 

Sebenarnya kasus diatas bukan kasus baru bagi saya. Ada beberapa kasus pasien yang ditinggalkan pasangannya karena merasa pasien tsb tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan ybs. Tapi kabar pasien saya yang baru ini membuat saya jadi merenungkan banyak hal. 

Pasien merupakan seorang wanita, usia diakhir 20an yang diharuskan cuci darah seumur hidupnya karena ginjalnya gagal bekerja normal lagi. Sebelumnya pasien mengalami kuretase dari keguguran yang dialaminya saat hamil anak kedua. Pasien sudah memiliki seorang anak lucu dari hasil pernikahannya dengan suami yang dikabarkan baru saja meninggalkannya ini. 

Beberapa minggu yang lalu, konsultan ginjal saya menasehati pasien "tak usahlah kau punya anak lagi ya. Kan udah ada satu. Agak susah kalo hamil dengan kondisi cuci darah begini. Badanmu tak kuat nanti" dengan logat palembang yang kental. Si pasien pun dengan senyum manisnya mengiyakan seakan sudah mengikhlaskan dan bersyukur dengan keadaannya sekarang.

Terlepas dari profesi saya sebagai seorang dokter, saya merasa sangat bisa berkorelasi dengan keadaan pasien tersebut. Wanita muda yang harus siap menghadapi masalah yang datang bertubi2. 

Saya pernah membaca sebuah tulisan "menikah itu seperti mempertaruhkan hidup. Kita gak tau apakah memilih menghabiskan hidup bersama pasangan yang dipilih itu bisa memberikan kebahagiaan atau malah kesengsaraan, hence, we still dare to do it" 

Sebelum memutuskan menikah, saya baru sadar bahwa saya nggak punya gambaran yang jelas tentang kehidupan pernikahan itu nantinya akan seperti apa. Bahkan disaat saya dilamar pun saya hanya membayangkan kerepotan persiapan pernikahan dengan segala detail yang harus tepat seperti yang saya inginkan. 

Sudah 6 bulan saya menikahi laki-laki ini. Sudah 6 bulan pula saya tidur dengan suara dengkurannya.
Sudah 6 bulan ini saya melakukan apapun dengan meminta izinnya. 
Sudah 6 bulan ini saya berdamai dengan diri menerimanya apa adanya. Menerima dia yang tidak pernah mengembalikan benda yang diambil ke tempat semula, menerima dia yang selalu menjawab "iya" setiap saya butuh pertolongan tapi tetap lupa/tidak dikerjakan. Menerima saya yang selalu ditinggal tidur tepat dinafas ke-5 sesudah obrolan santai kami. Menerima segala tingkah laku kekanakannya, kekunoannya, dan kekakuannya. 

Sama seperti dia yang sangat sabar sekali menerima saya dengan segala keburu-buruan saya, kelabilan saya, emosi saya, keposesifan saya, dan keegoisan saya. 
Sudah 6 bulan ini setiap subuh dan maghrib dan kadang di waktu sholat yang lain, saya selalu berada saru shaf di belakangnya. 
Sudah 6 bulan ini menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, menangis bersama, dan bersyukur karena menikah masih keputusan terbaik yang pernah kami ambil. 

Sampai di hari ini.
Sampai di detik ini muncul pertanyaan tentang kesetiaan lelaki yang saya percayai sebagai lelaki terbaik dan terpantas untuk penjadi pasangan dan ayah untuk anak-anakku kelak.

Tentunya sampai sekarangpun saya masih percaya suami saya adalah keputusan terbaik yang saya ambil seumur hidup saya. 

Kejadian pasien tersebut membuat saya jadi merenungkan kehidupan pernikahan itu tidak hanya seputar kasih mengasihi, tapi juga keikhlasan hati memberi dan menerima keadaan satu sama lain in the best or worst. 

Baru 6 bulan menikah, masih terasa seperti pengantin baru. Walaupun banyak perselisihan yang sudah dilewati, tetap hidup bersamanya adalah yang satu hal yang tidak pernah saya sesali. Dan saya berharap begitu selalu. Selamanya. 

Amin ya rabbal alamin..

Selamat tanggal 20, bang bulu 😘
Tadi pagi saat membereskan jas suami nemu kertas kucel ini di kantongnya. It's enough to make my day 😊😊😊


Senin, 15 Agustus 2016

Book review : Harry Potter and the Cursed Child


Beli bukunya impulsif banget pas April lalu jalan ke gramed ngeliat pre order Harry Potter dengan diskon 25+5%. Dengan nama Harry Potter dan diskon segede itu tanpa mikir panjang langsung daftar PO dengan DP 100k. Saya nggak tau kalo J.K Rowling nerbitin harry potter ke-8 saat itu. 

Awal Agustus saya dapet telfon dari gramedia yang ngasih tau kalau bukunya sudah keluar. Yang buat saya makin semangat ternyata launching buku ini serempak di seluruh dunia. Saya belum pernah beli buku import dan ini buku termahal yang pernah saya beli. It cost me more than 300k and is it worth to buy?
.
Saya baru tahu ternyata buku ini bukan karangan J.K Rowling melainkan script theatrical yang dibuat oleh John Tiffany & Jack Throne. I found it out from Elle twitter account just right on the day I bought it. Perasaan mulai nggak enak, setelah liat bukunya makin mulai nyesel. 
.
.
Bukunya terbilang tipis untuk kategori novel Harry Potter yang biasa menghabiskan lebih dari 600an halaman. Dan setelah dilihat ternyata cuma 330 halaman dicetak dengan spasi 1,5. Yaahh.. Kalo kaya gini sih 3 jam kelar.
Halaman pertama saya mulai merasa ditipu ternyata baca script yang isinya dialog. Bukan seperti novel Harry Potter biasanya. 
Script yang isinya dialog. Ngabis2in halaman aja deh ini 😤😤

Memang salah saya yang nggak nyari info dulu tentang bukunya langsung ikutan PO aja dan akhirnya misuh2 karena out of expectations. 
.
.
.
Well, dibalik semua penyesalan saya ternyata buku ini cukup menghibur. Lumayan page turning. Saya menyelesaikan baca bukunya seminggu. (Sengaja ninggalin bukunya di rumah sakit, bacanya pelan2 biar nggak nyesek banget beli mahal2 malah cepet ditamatin bacanya 😔😔)
Seorang teman dekat saya sesama Potterhead nanya bukunya gimana? Worth to buy kah? So here is my point of view: 
  
So, apakah saya nyesal beli bukunya? 

Ya. Mengingat harganya yang menurut saya terlalu mahal dibandingkan dengan isinya yang tipis dan ceritanya cukup sederhana agak kekanakan. 

Kalau dibandingkan dengan novel asli karya JK Rowling? 
Yah.. Untuk dibandingkan aja rasanya belum bisa..