Udah hampir 1 bulan aku jaga di IGD dan belum juga nemu kasus yang menarik or at least an emergency-pumping-my-adrenaline case. So far pasien2ku kebanyakan sakit biasa2 aja like common cold, cerumen prop, corpus alienum on the auricule, typhoid fever or dyspepsia. Kalo baca nama2 penyakit di atas keren ya? You can google it and find how graceless they are.
satu kasus yang lumayan menarik waktu aku jaga malam di IGD dan jam 3 pagi ditelfon perawat IGD karena ada mayat yang mau divisum. Uh-oh, thanks to co-ass life, I never get afraid of dead body anymore. But still, I felt a bit scared the first time I saw the body in the emergency room. He was lying on the bed covered by towel. When I opened the towel, there I found him. A 55 year-old man with a unimaginable injury on his abs. At first I thought he must be a bad guy who drunk all night and bring his to the accident. U will never know how easy people jump their self into a traffic accident because of drunk.
A reality hits me when I just knew that he has nothing to do with drink :|
So the story begin...
Korban sedang dalam perjalanan dari Tarutung menuju Pekan Baru untuk menghadiri pesta disana. Bersama 2 anak cowoknya mereka nyetir mobil rental malem2. Tiba2 ban mobil pecah, so they had to change tire. Kayanya bukan ban mobilnya aja sih yang pecah, ada masalah di permesinan mobilnya yang buat korban harus masuk ke bawah mobil untuk ngecek in the middle of the night while there's none of street lamp there, I might add!
Out of nowhere, ada mobil avanza melaju kencang dan gak ngeliat ada setengah badan lying on the street karena gak ada lampu jalan. Kayanya si pengemudi mobil avanza ini juga gak liat ada mobil mogok. Karena tiba2 mobil ini nabrak mobil rental yang mogok dan mobil rentalnya menggilas perut korban.
Menurut anak korban, 1 jam setelah kejadian, denyut nadi masih teraba, jantung masih berdetak tapi mereka susah dapet pertolongan karena kejadian jam 2 pagi, jalanan sepi dan mobil mereka mogok. Sekitar jam 3 pagi korban dibawa ke IGD RS sama polisi dalam keadaan tak bernyawa.
I feel definitely guilty for my missed prejudice on him. He's just an innocent stranger who tragically end his life here. He's not even the local resident. Truly deeply so sorry for him.
Waktu aku buka handuk yang nutupin mayatnya, there I saw him..
First I looked at his face, nothing was wrong. Just a peaceful face without any sign of holding a pain draw on his face. Turun ke badannya baru lah aku lihat penyebab kematian. Perutnya robek dari pertengahan pusat sampai ke pinggang kanan. Oh, you don't wanna know the detail.
Aku ikut bantuin perawat2 cowok narik kulit perut dan kulit pahanya buat di jahit. And it's hard indeed. Then I did what I had to do. I'm measuring the scale of the lacerated wound, I wrote whatever I found on him on the paper.
Keluarga minta mayat di formalin. It took 3 hours to wrap it all. Then another fact hits me hard.
Anak cowoknya cerita "saya juga ada di bawah kolong mobil waktu kejadian, tapi nggak tau kenapa cuma Bapak yang..."
Another thing disturb me when the hospital urged them to paid the fee while his son doesn't have any money on him. Aku ngerti sih, itu kebijakan rumah sakit untuk minta pelunasan pembayaran. Dan mereka juga minta jasa ambulans untuk nganter mayat balik ke Tarutung sana. Jadi anak korban ini janji bakal bayar semua biayanya nanti pas nyampe kampung karena sekarang mereka bener2 gak ada uang. Tapi pihak rumah sakit masih maksa at least bayar setengah lah karena sebelum2nya mereka udah sering kejadian kaya gini dan ujung2nya gak dibayar.
Well, mungkin karena aku baru disini, dan blom ngalamin apa yang mereka alamin ya. Tapi kan ya ini keluarga lagi berduka kenapa gak saling membantu gitu. Toh mereka udah janji juga bakal bayar nanti pas nyampe kampung. Tapi siapa lah aku? Cuma dokter internship yang untuk hidup disini aja masih disubsidi orang tua. Konon lagi mau bantu mereka.
Akhirnya polisi yang nemenin ngasih jaminan KTP nya dan gak tau dari mana si anak udah ngebayar 500ribu biaya administrasi.
Moral of the story : you never know when, where and how you will end your life. Will it be now, tomorrow or a hundred year later? Will it be in a peaceful painless way or either in a painful and rudeness one? Will it be in a cozy warm bed or in a cold dirty street? None of us know. So then, since I the same as you for the knowledge of death, let's fulfill this remaining time we have as precious as possible. Fill it with all the positive energy and things to do. Because we never know when our turn to face the death will.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar