Sebuah informasi yang baru saja disampaikan seorang perawat pagi ini setelah saya visite pagi.
Dua bulan terakhir saya mulai bekerja di Instalasi Hemodialisa (HD) di salah satu rumah sakit swasta di sini.
Kerja di HD jauh lebih menyenangkan karena bonding ke pasien jadi lebih kuat ketimbang di IGD atau ruang rawat inap. Setiap 2 kali seminggu ketemu pasien yang sama dengan penyakit yang sama tapi keluhan yang bervariatif. Setiap individu punya masalah masing2 dan mayoritas pasien HD punya satu masalah yang sama : depresi.
Hampir setiap pasien HD depresi dengan keadaannya. Merasa kualitas hidupnya sangat berkurang sejak divonis harus cuci darah rutin 2 kali seminggu. Merasa tidak bisa hidup mandiri karena butuh bantuan mesin untuk menyambung hidup. Ditambah lagi keluarga yang belum tentu bisa menerima keadaan pasien yg hidupnya bergantung pada mesin. Dan tugas dokter HD disini lebih kepada memberikan motivasi sambil mengobati beberapa keluhan2 yang muncul selama HD.
Sebenarnya kasus diatas bukan kasus baru bagi saya. Ada beberapa kasus pasien yang ditinggalkan pasangannya karena merasa pasien tsb tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan ybs. Tapi kabar pasien saya yang baru ini membuat saya jadi merenungkan banyak hal.
Pasien merupakan seorang wanita, usia diakhir 20an yang diharuskan cuci darah seumur hidupnya karena ginjalnya gagal bekerja normal lagi. Sebelumnya pasien mengalami kuretase dari keguguran yang dialaminya saat hamil anak kedua. Pasien sudah memiliki seorang anak lucu dari hasil pernikahannya dengan suami yang dikabarkan baru saja meninggalkannya ini.
Beberapa minggu yang lalu, konsultan ginjal saya menasehati pasien "tak usahlah kau punya anak lagi ya. Kan udah ada satu. Agak susah kalo hamil dengan kondisi cuci darah begini. Badanmu tak kuat nanti" dengan logat palembang yang kental. Si pasien pun dengan senyum manisnya mengiyakan seakan sudah mengikhlaskan dan bersyukur dengan keadaannya sekarang.
Terlepas dari profesi saya sebagai seorang dokter, saya merasa sangat bisa berkorelasi dengan keadaan pasien tersebut. Wanita muda yang harus siap menghadapi masalah yang datang bertubi2.
Saya pernah membaca sebuah tulisan "menikah itu seperti mempertaruhkan hidup. Kita gak tau apakah memilih menghabiskan hidup bersama pasangan yang dipilih itu bisa memberikan kebahagiaan atau malah kesengsaraan, hence, we still dare to do it"
Sebelum memutuskan menikah, saya baru sadar bahwa saya nggak punya gambaran yang jelas tentang kehidupan pernikahan itu nantinya akan seperti apa. Bahkan disaat saya dilamar pun saya hanya membayangkan kerepotan persiapan pernikahan dengan segala detail yang harus tepat seperti yang saya inginkan.
Sudah 6 bulan saya menikahi laki-laki ini. Sudah 6 bulan pula saya tidur dengan suara dengkurannya.
Sudah 6 bulan ini saya melakukan apapun dengan meminta izinnya.
Sudah 6 bulan ini saya berdamai dengan diri menerimanya apa adanya. Menerima dia yang tidak pernah mengembalikan benda yang diambil ke tempat semula, menerima dia yang selalu menjawab "iya" setiap saya butuh pertolongan tapi tetap lupa/tidak dikerjakan. Menerima saya yang selalu ditinggal tidur tepat dinafas ke-5 sesudah obrolan santai kami. Menerima segala tingkah laku kekanakannya, kekunoannya, dan kekakuannya.
Sama seperti dia yang sangat sabar sekali menerima saya dengan segala keburu-buruan saya, kelabilan saya, emosi saya, keposesifan saya, dan keegoisan saya.
Sudah 6 bulan ini setiap subuh dan maghrib dan kadang di waktu sholat yang lain, saya selalu berada saru shaf di belakangnya.
Sudah 6 bulan ini menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, menangis bersama, dan bersyukur karena menikah masih keputusan terbaik yang pernah kami ambil.
Sampai di hari ini.
Sampai di detik ini muncul pertanyaan tentang kesetiaan lelaki yang saya percayai sebagai lelaki terbaik dan terpantas untuk penjadi pasangan dan ayah untuk anak-anakku kelak.
Tentunya sampai sekarangpun saya masih percaya suami saya adalah keputusan terbaik yang saya ambil seumur hidup saya.
Kejadian pasien tersebut membuat saya jadi merenungkan kehidupan pernikahan itu tidak hanya seputar kasih mengasihi, tapi juga keikhlasan hati memberi dan menerima keadaan satu sama lain in the best or worst.
Baru 6 bulan menikah, masih terasa seperti pengantin baru. Walaupun banyak perselisihan yang sudah dilewati, tetap hidup bersamanya adalah yang satu hal yang tidak pernah saya sesali. Dan saya berharap begitu selalu. Selamanya.
Amin ya rabbal alamin..
Selamat tanggal 20, bang bulu 😘
Tadi pagi saat membereskan jas suami nemu kertas kucel ini di kantongnya. It's enough to make my day 😊😊😊

Tidak ada komentar:
Posting Komentar